Huruf laa (لَا) dapat beramal dengan amalan inna (إنَّ). Kita ketahui bahwa إنَّ dan saudari-saudarinya dapat masuk ke susunan mubtada’ khabar lalu menashabkan mubtada’ serta merafa’kan khabar. Huruf لَا yang dapat beramalan seperti ini ialah huruf لا nafiyah lil jinsi. Misalnya,

لَا رَجُلَ فِي المَسجِدِ

maknanya ialah “Tidak ada laki-laki di dalam masjid.”

Huruf لَا di ungkapan di atas berfungsi meniadakan semua benda yang bisa termasuk dalam kata rajul (رَجُل). Maksudnya, tidak ada satu pun yang layak disebut laki-laki berada di dalam masjid.

Contoh lain,

لَا تِلمِيذَ حَاضِرٌ

Artinya, tidak ada satu pun yang termasuk dalam pengertian murid (تلميذ) hadir.

لَا بُستَانَ مُثمِرٌ

Artinya, tidak ada satu pun yang disebut kebun (بُستَان) berbuah. Oleh karena itu, huruf لا ini disebut an naafiyah lil jinsi (النَّافِيَة لِلجِنسِ), peniadaan yang dikandungnya meliputi seluruh individu yang termasuk anggota jenis yang dinafi. Huruf لا meniadakan seluruh jenis رَجُل pada contoh pertama, seluruh jenis تِلمِيذ pada contoh kedua, dan seluruh jenis بُستَان pada contoh ketiga.

Pada contoh-contoh di atas, isim لا mabni dengan tanda nashabnya, yakni fathah, sedangkan khabarnya dihukumi marfu’ dengan harakat dhammah, sedangkan untuk contoh pertama khabarnya berupa jar-majrur fii mahalli raf’.

Di sisi lain, kita boleh mengatakan

لَا رَجُلٌ فِي المَسجِدِ

Namun, pengingkaran yang dikandung oleh huruf لا di contoh ini punya dua kemungkinan, bisa bermakna “tidak ada satu orang pun laki-laki di masjid”, bisa pula bermakna “tidak ada satu orang laki-laki di masjid” sehingga sah pula untuk mengatakan,

لَا رَجُلٌ فِي المَسجِدِ بَل رَجُلَانِ

“Tidak ada satu orang di masjid, tetapi ada dua orang”

Pada kasus seperti ini, huruf لا beramal dengan amalan لَيسَ.  Dia memiliki kemungkinan antara dua makna ini, tetapi tidak tegas makna yang mana yang hendak ditunjukkannya. Berbeda dengan laa nafiyah lil jinsi yang secara tegas meniadakan khabar dari seluruh jenis isimnya.

 

Syarat Laa Nahiyah lil Jins

Ada syarat yang harus dipenuhi oleh huruf لا agar dapat beramal dengan amalan إنَّ.

  1. Harus merupakan laa nafiyah lil jins
  2. Isim dan khabarnya harus nakirah.
  3. Khabarnya tidak boleh mendahului isimnya.

 

Jika tidak berfungsi meniadakan seluruh jenis (syarat pertama), maka dia bisa jadi merupakan لا yang beramal dengan amalan ليس seperti contoh sebelumnya.

Syarat kedua mengatakan isim dan khabarnya harus nakirah. Laa nafiyah lil jinsi tidak bekerja pada isim atau khabar yang ma’rifat. Jika dia masuk pada ma’rifat, maka wajib diulang. Misal,

لَا زَيدٌ فِي الدَّارِ وَلَا عُمَرُ

“Tidak ada Zaid di rumah, tidak pula Umar”

Syarat ketiga mengharuskan isim لا terletak di depan dan khabarnya di belakang. Kalau khabarnya mendahului isimnya, maka لا wajib diulang. Misalnya,

لَا فِي الدَّارِ رَجُلٌ وَلَا امْرَأَةٌ

“Tidak ada laki-laki di rumah itu, tidak pula perempuan.”

Posisi khabar ini pun berpengaruh pada makna. Jika kita katakan misalnya,

لَا عَاصِمَ لَكَ

“Tidak ada pelindung bagimu”,

maknanya kita meniadakan pelindung untuk orang yang kita maksud tersebut secara mutlak tanpa membandingkannya dengan orang lain. Namun, jika kita katakan

لَا لَكَ عَاصِمٌ وَلَا مَلجَأٌ

“Tiada pelindung bagimu, tidak pula ada penjaga”

maka maknanya “Engkau tidak memiliki pelindung, orang lain sajalah yang memiliki.”

Contoh lain ialah firman Allah dalam QS. Al Baqarah: 2,

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ

maknanya adalah tidak ada keraguan pada Al Quran. Namun, jika redaksi yang dipakai ialah

لَا فِيهِ رَيبٌ

maknanya ialah meniadakan sifat meragukan dari Al Qur’an dan menyematkannya pada kitab Allah yang lain.

Contoh lagi ialah firman Allah tentang khamr surga,

لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ

“Tidak ada di dalamnya (unsur) yang memabukkan dan mereka pun tidak mabuk karenanya.” (QS. Ash Shaffat: 47)

maknanya ialah meniadakan sifat mabuk yang menimpa akal dari khamr surgawi dan menyematkan sifat memabukkan tersebut pada khmar selain khamr surgawi, yakni khamr dunia. [2, hal. 308-309]

 

Rujukan

[1] al Anshari, Muhammad Abdillah ibn Hisyam. 2004. Syarh Qathrin Nada wa Ballish Shada. Beirut: Darul Kutub al ‘Ilmiyyah

[2] as Samurra-i, Muhammad Fadhil. 2014. An Nahwu al Arabiy: Ahkam wa Ma’aanin. Damaskus: Dar Ibn Katsir

[3] as Sanhuri, ‘Ali bin Abdillah. 2006. Syarhul Aajurrumiyyah fii ‘Ilmil Arabiyyah. Tahqiq: Dr. Muhammad Khalil Abdul Aziz Syaraf. Kairo: Darus Salam

[4] ash Shabban, Muhammad bin Ali. Hasyiah ash Shabban ‘ala Syarhil Asymuni. Beirut: Darul Kutub al ‘Ilmiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *