Kok Ga’ Ada Mata Pelajaran Bahasa Arab?

         Ketika melihat rapor mata pelajaran tambahan bahasa anak SMA dan SMP, di sana ada mata pelajaran pilihan bahasa German, Bahasa Mandarin dan Bahasa Jepang. Akan tetapi tidak ada  pelajaran bahasa Arab!.Seharusnya bahasa Arab dimasukkan bahkan diprioritaskan karena bahasa Arab termasuk bahasa dunia yang banyak dipakai didunia dan  Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam.

Bahasa Arab sulit katanya?

         Salah satu alasan bahasa Arab tidak dimasukkan dalam mata pelajaran tambahan karena bahasa Arab punya tata bahasa yang banyak dan sulit sehingga agak susah dipelajari bagi anak-anak. Ini kurang tepat, kita bisa berkaca dengan sejarah Islam saat Islam berjaya, dimana bahasa Arab menyebar dan dipelajari di berbagai negeri.

          Syaikhul Islam rahimahullah menceritakan,

ولهذا كان المسلمون المتقدمون لما سكنوا أرض الشام ومصر، وأهلهما رومية، وأرض العراق وخراسان ولغة أهلهما فارسية، وأهل المغرب، ولغة أهلها بربرية – عودوا أهل هذه البلاد العربية، حتى غلبت على أهل هذه الأمصار: مسلمهم وكافرهم،

“Oleh karena itu dahulu kaum muslimin ketika menduduki Syam dan Mesir, yang penduduk kedua kota tersebut berbahasa Romawi dan menduduki Irak. Khurasan, yang penduduk kedua kota tersebut berbahasa Persia serta menduduki Maghrib yang penduduknya berbahasa Bar-bar, maka kaum muslimin membiasakan penduduk kota tersebut berbahasa Arab, sehingga mendominasi penduduknya, baik muslimnya atau kafirnya.”[1]

          Orang yang mengatakan sulitnya mempelajari bahasa Arab dengan banyaknya kaidah, hafalan tashrif (cetakan kata), rumitnya balaghah, maka ia terburu-buru, tidak sabar dan tidak memahaminya dari dasar.

          Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

النحو سهل و سلمه قصير و درجته سهلة لكن تفهمها من أوله

“Ilmu Nahwu (salah satu cabang bahasa Arab, pent) adalah mudah, tangganya (untuk mencapainya, pent) pendek,  dan tingkatannya sederhana, akan tetapi engkau memahaminya dari awalnya,”[2].

Perhatian bahasa Arab untuk generasi muda

          Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ نَاسٌ مِنَ الْأُسَارَى يَوْمَ بَدْرٍ لَيْسَ لَهُمْ فِدَاءٌ، «فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءَهُمْ، أَنْ يُعَلِّمُوا أَوْلَادَ الْأَنْصَارِ الْكِتَابَةَ

“Para musuh yang menjadi tawanan pada perang Badr tidak mempunyai tebusan [harta untuk menebus tawanan]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tebusan mereka dengan mengajarkan baca-tulis [yaitu bahasa Arab] kepada anak-anak kaum Anshar.”[3]

          Kemudian dikisahkan mengenai Amirul Mukminin Umar Bin Khattab radhiallahu ‘anhu,

أن عمر مر على قوم يسيئون الرمي فقرعهم فقالوا: “إنا قوم متعلمين” فأعرض مغضبا وقال: “والله لخطؤكم في لسانكم أشد علي من خطئكم في رميكم”

“Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu melewati suatu kaum [diriwayat lainnya kumpulan anak-anak ] yang salah ketika memanah, kemudian Umar mengomeli mereka. Mereka berkata “ Inna qaum muta’allimin” [seharusnya yang benar“muta’allimun”], “kami sedang latihan”. Maka Umar Marah dan berpaling dari mereka sambil berkata, “ Demi Allah, Kesalahan pada ucapan kalian lebih berbahaya menurutku daripada kesalahan kalian dalam memanah.”[4]

          Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu juga berkata,

“تعلموا العربية فإنها من دينكم وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم

Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian, pelajarilah ilmu waris karena merupakan bagian dari agama kalian.”[5]

          Ibnu Katsir Rahimahullahu  berkata,

وذلك لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس؛ فلهذا أنزل أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة (8) أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرفشهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه

“Yang demikian itu (bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia diturunkan (Al-Qur’an) kepada rasul yang paling mulia (Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam), dengan bahasa yang termulia (bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (Jibril), ditambah diturunkan pada dataran yang paling muia diatas muka bumi (tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (Ramadhan), sehingga Al-Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi.”[6]

          Imam Asy Syafi’i rahimahullah -yang mazhabnya menjadi mazhab mayoritas di Indonesia- berkata,

سمى الله الطالبين من فضله في الشراء والبيع تجاراً، ولم تزل العرب تسميهم التجار ثم سماهم رسول الله صلى الله عليه وسلم بما سمى الله به من التجارة بلسان العرب، والسماسرة اسم من أسماء العجم، فلا نحب أن يسمى رجل يعرف العربية تاجراً، إلا تاجراً، ولا ينطق بالعربية فيسمي شيئاً بأعجمية، وذلك أن اللسان الذي أختاره الله عز وجل لسان العرب، فأنزل به كتابه العزيز وجعله لسان خاتم أنبيائه محمد صلى الله عليه وسلم، ولهذا نقول: ينبغي لكل أحد يقدر على تعلم العربية أن يتعلمها، لأنها اللسان الأولى، بأن يكون مرغوباً فيه من غير أن يحرم على أحد أن ينطق بأعجمية.

“Allah  menamakan orang-orang yang mencari karunia Allah  melalui jual-beli (berdagang) dengan nama tujjar  (para pedagang-pent), kemudian Rasululah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga menamakan mereka dengan penamaan yang Allah  telah berikan, yaitu (tujjar) dengan bahasa Arab. Sedangkan “samaasiroh” adalah nama dari bahasa ‘ajam (selain Arab). Maka kami tidak menyukai seseorang yang mengerti bahasa Arab menamai para pedagang kecuali dengan nama “tujjar” dan janganlah seseorang yang berbahasa Arab lalu ia menamakan sesuatu dengan bahasa ‘ajam. Hal ini karena bahasa Arab adalah bahasa yang telah dipilih oleh Allah , sehingga Allah  menurunkan kitab-Nya dengan bahasa Arab dan menjadikan bahasa Arab menjadi bahasa penuntup para nabi, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kami katakan sepantasnya setiap orang yang mampu belajar bahasa Arab mempelajarinya karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling pantas dicintai tanpa harus melarang seseorang berbicara dengan bahasa yang lain.”[7]

 

Penyusun: Ustadz dr Raehanul Bahraen

 


[1] Iqtidho’ shiratal mustaqim hal 526 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql, Wizarot Asy Syu-un Al Islamiyah wal Awqof

[2] dikutip dari At-Tashil fi ma’rifati lughotit tanzil, Abu Muslih Ari Wahyudi, Pustaka Muslim

[3] HR. Hakim dalam Mustadrak no. 2621, dishahihkan oleh Dzahaby

[4] Min Tarikh An-Nahwi Al-‘Arabi 1/9, Sa’id Al-afghani, Maktabah Al-Falah, Syamilah

[5]Iqtidho’ shiratal mustaqim 527-528 jilid I

[6] Tafsirul Qur’an Al-Adzim 4/366, Darul Thayyibah, cet.ke-2, 1420 H, Asy-Syamilah

[7] Iqtidho’ shiratal mustaqim hal 521-522 jilid I

About Author

Leave a Reply